mereka yang ada di bara

Sekedar berbagi tentang kebingungan, kegalauan, keterpurukan, ketidaktahuan, ketidak adilan, kenyataan, keraguan, ketidak jelasan, keanehan dan kemana-mana. Cerita tentang hari-hari yang lalu saat aku bertemu seorang bocah kecil di depan mini market di bara. Raut wajahnya canti, imut, lucu, manis, tapi sayang dari tatapanya seolah ia begitu merana.
Rasanya ngilu banget melihat bocah  kecil itu tertunduk lesu di depan pintu menunggu belas kasih orng-orang yang lewat.

Sebelum aku mulai masuk ke mini market, sempat aku melihat matanya merah seperti menangis. Pengenya sih bertanya tapi aku ragu takut membuatnya tambah tak nyaman. Sampai aku keluar bocah itu masih tertunduk sambil memegang pelastik berisikan proposal dan daftar nama anak panti asuhan.

Aku putuskan tak langsung pergi, aku amati bocah itu, kasihan rasanya jika anak sekecil itu harus mencari sumbangan, tapi di lain sisi aku malah berpikir. Sebenarnya benarkah bocah itu dari panti yang mencari sumbangan, atau mereka hanya sebagai alat untuk memperoleh keuntungan…???.

Tak lama waktu berselang, dua bocah laki-laki dengan baju koko yang lusuhpun datang. Sama mereka membawa proposal dan  daftar penghuni panti asuhan, makin penasaran aku pada mereka, siapa sebenarnya mereka ini…? Jika benar dari panti mengapa mereka tak pergi sekolah…? Lalu kenapa baju mereka lusuh…? Kenapa anak-anak  harus mencari dana bukankah mereka harusnya di lindungi…?

Aku coba beranikan diri bertanya pada mereka, ya meski sebenarnya aku tak yakin mereka bakal menjawab. Tapi kita tak akan pernah tau kalau kita tak pernah mencoba, aku yakinkan diriku untuk bertanya meskipun rasanya takut menyinggung mereka. Syukurlah ternyata pertanyaan yang aku lontarkan mereka jawab meski aku tahu kalau mereka sebenarnya sedikit takut denagn pertanyaanku.

Jika ada lagi kesempatanku untuk kembali bertemu mereka, ingin rasanya aku tahu lebih jauh kehidupan dan kenyataan yang mereka hadapi. Dan aku berharap semoga Tuhan masih mempertemukan aku pada mereka, karena aku lupa siapa namanya,,,heee

Jika mereka benar dari yayasan mengapa mereka harus meminta-minta di jalan…? Aku juga penasaran dengan tempat yayasan mereka, apa tidak ada jalan lain selain membirakan anak-anak tanpa dosa ini meminta sumbangamn. Mengapa anak-anak harus jadi korban…? lugu dan menggemaskan, bila seperti ini dunia tampak begitu tak adil. Kemana sebenarnya orang-orang kaya disini sampai membiarkan sebuah yayasan meminta anak-anaknya meminta sumbangan di jalan-jalan.

Namun, jika mereka hanya alat untuk memperoleh materi, maka siapa orangnya yang berbuat sepicik itu. Apa yang harus kita perbuat untuk membantu mereka, menolong mereka bahkan membuat mereka bahagia, bocah-bocah itu adalah masa depan bangsa…

Ayo siapa sekarang yang siap buat menolong mereka….???

Komentar