pernyataan eksistensi??

Hari ini gue punya sebuah pencerahan, pencerahan yang ngebuat gue berusaha membuka mata lebih lebar. Beberapa kata singkat yang langsung mengenai naluri gue sebagai manusia. yang menurut gue itu bener-bener kena di hati dan terus terngiang-ngiang di pikiran gue. Beberapa kata ajaib dari dosen Biologi gue saat menerangkan sifat-sifat makhluk hidup. Kalimat yang berbunyi “makhluk hidup itu memiliki kepekaan terhadap lingkungannya”, kemudian beliau juga melanjutkan kata-kata tersebut dengan sebuah petuah yang tak kalah ajaib buat gue. Kalimatnya begini “ketika suatu makhluk hidup sudah tak lagi peka terhadap lingkungannya maka eksistensi makhluk tersebut dipertanyakan dalam kehidupan”.


(jlebb….nusuk dan mengingatkan gue apakah gue masih peka sama lingkungan di sekitar gue)


Coba deh kali ini kita renungkan, berapa kali kita bertindak bodoh sebagai makhluk hidup yang cuek, dan gag peka dengan keadaan lingkungan sekitar kita?? Dan pertanyaan yang besar kembali timbul, sebenarnya kita manusia atau hanya sebongkah batu yang berjalan dan diberi nyawa???.


Kata-kata dari dosen biologi tadi pagi sampai saat ini terus menghantui gue dan memenuhi otak gue, terus muter-muter dengan gerakan slow motion, kemudian dengan indahnya memutar kembali adegan-adegan masa lalu. kenangan dimana gue udah mulai kehilangan kepekaan terhadap lingkungan, kepekaan gue sebagai seorang anak, kepekaan gue sebagai adik, kepakaan gue sebagai kakak, kepekaan gue sebagai sahabat, teman dan masyarakat dunia.


Gue merasa malu sebagai manusia karena gue belum bisa peka dengan keadaan disekitar gue, tapi disisi lain gue juga saat ini masih bertanya-tanya “apakah gue cukup peka terhadap diri gue sendiri??” (haha pertanyaan aneh tapi kudu di jawab)


Renungkan kembali bersama-sama.


“gue manusia atau hanya seonggok daging yang berjalan dengan nyawa tanpa kepekaaan. Atau gue hanya zombi makhluk pemakan otak dan berjalan mondar-mandir nyari mangsa.” (pilihan yang gag adil, karena jelas gue adalah manusia dengan jutaan perasaan yang bermacam-macam, bukan zombi atau robot)


Gue jadi teringat waktu gue harus mengabaikan beberapa pesan singkat atau ajakan chat temen-temen lama gue karena gue males, dan sekarang gue malu kerena gue seolah-olah bukan lagi makhluk hidup yang eksistensinya bisa dirasakan oleh setiap orang. Gue malu yang gag peka sama temen-temen gue yang mungkin sebenarnya merindukan gue (positif thingking kelewat jadi kepedean), atau padahal temen gue yang sebenarnya mau meminta bantuan. Ah.. gue begitu bodoh dan sok tak peduli dengan mereka padahal gue sadar betul gue butuh mereka.


Masih panteskah gue disebut makhluk hidup yang katanya peka terhadap lingkungan, yang memiliki perasaan.

Komentar

  1. dari tulisan ini gue jd inget:
    "kadang, gue merasa udah cukup peka. faktanya masih banyak hal yg luput dari "kepala" gue."

    BalasHapus

Posting Komentar