Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

Sekarang aku tahu

Batuk itu kembali menyerang ku, dadaku terasa sesak dan tubuhku semakin terguncang dengan keras. Tak tanggung-tanggung air mataku juga ikut mengalir seperti arus sungai, deras dan bisa menghanyutkan siapa saja yang lewat. Seperti tak mau kalah seluruh tubuk ku mulai mengamuk dan seolah hendak meledakakan diri. Piker ku itu adalah rencana yang terbaik. Sekarang tinggal mereka yang terkejut serta miris memandangku, muka-muka mereka penuh dengan kekhawatiran, tatapannya kosong seperti  zombie. Mereka tampak terkejut, air mata mereka perlahan mulai mengalir seperti sungai Niagara, mereka berteriak seolah mereka yang paling tersiksa.
“Wahai Tuhan pencipta alam… sungguh aku tak tahu kenapa mereka menangis sedihkah mereka menatap ku yang mulai hancur???” tanyaku pada tuhan seketika itu.
Tuhan tak langsung menjawab pertanyaanku, tetapi Ia memberiku kabar lewat angin sebulan setelah kejadian itu. Ketia hujan tiba membasahi tubuh ku  angin datang dengan kencang, seperti hairdryer angin berhembus …

keluhan

mengeluh...

itulah kita, tak pernah puas tak pernah merasa cukup sehingga segalanya tampak langka. padahal kalau kita tinjau dengan benar kitalah penyebab kelangkaan itu ada.
menurut teori ekonomi yang gue pelajari di semester ini, yang dimaksud kelangkaan itu ada karena keinginan kita yang tak pernah terpuaskan dan keinginan kita yang tak terbatas jumlahnya.

begitulah kita mengeluh dan mengeluh


jeritan hati

menatap langit aku tak mampu memandang bintang aku tak sanggup menggenggam pasir aku terlalu rapuh mengajukan doa pada Mu aku jadi malu
lelah dan letih hati menanti keputusan yang mati keputusan yang tak berarti keputusan yang hanya melukai dan bikin patah hati
ya rabbi dosa apa hamba Mu yang nista ini hingga tak mampu marah atau berlari tak mampu bertahan dan merasa sendiri
marah bukan sosuli teriak bukan solusi tolong ini lelah perih sepi