Sekarang aku tahu


Batuk itu kembali menyerang ku, dadaku terasa sesak dan tubuhku semakin terguncang dengan keras. Tak tanggung-tanggung air mataku juga ikut mengalir seperti arus sungai, deras dan bisa menghanyutkan siapa saja yang lewat. Seperti tak mau kalah seluruh tubuk ku mulai mengamuk dan seolah hendak meledakakan diri. Piker ku itu adalah rencana yang terbaik.
Sekarang tinggal mereka yang terkejut serta miris memandangku, muka-muka mereka penuh dengan kekhawatiran, tatapannya kosong seperti  zombie. Mereka tampak terkejut, air mata mereka perlahan mulai mengalir seperti sungai Niagara, mereka berteriak seolah mereka yang paling tersiksa.

“Wahai Tuhan pencipta alam… sungguh aku tak tahu kenapa mereka menangis sedihkah mereka menatap ku yang mulai hancur???” tanyaku pada tuhan seketika itu.

Tuhan tak langsung menjawab pertanyaanku, tetapi Ia memberiku kabar lewat angin sebulan setelah kejadian itu. Ketia hujan tiba membasahi tubuh ku  angin datang dengan kencang, seperti hairdryer angin berhembus membelai tubuh, mengeringkan rambut ku yang basah oleh hujan.
Kejadian yang sama kembali terulang, ya. mereka kembali menjerit-jerit mengerikan. Jeritan mereka seolah membelah langit dan sedikit menghancurkan gendang telingaku. Namun dari kejadian ini perlahan aku mulai memahami apa yang menyerang dan membuat mereka ketakutan. Mereka membutuhkan aku, mereka takut ketika aku mulai terbatuk, meskipun itu tak sepenuhnya salah ku. Mereka takut ketika aku tiba-tiba mengenakan hairdryer.
“Tuhan aku mengerti kenapa mereka bersedih hati…” ucapku sambil menatap ke langit. Pelan-pelan ia mulai menyibakan awan gelap dan mengijinkan mentari yang cantik menyinari tubuh ku.

Komentar