hikmah dibalik peristiwa


Belum kering rasanya peluh yang menetes dari tubuh ayah, kini ia harus kembali lagi bekerja malam demi kehidupan kami. Hanya ditemani lampu minyak yang berasap hitam ia menganyam tikar dari daun pandan yang ia cari sejak sore tadi, setelah seharian mencari rumput untuk sapi pak maman. Inilah ayah ku sosok perkasa yang rela membanting tulang demi memenuhi kebutuhan kami.
“uhuk..uhuk..” terdengar suara amak yang memilukan dari bali bilik berukuran tak lebih dari dua kali satu meter. Sudah sebulan amak menderita penyakit yang menyerang paru-parunya, entah apa nama penyakit itu ayah bilang sulit untuk menyambungkan kata dari dokter padaku tentang nama penyakit itu. Ayah hanya tahu penyakit yang diderita ibu disebabkan oleh banyaknya asap kotor yang dihirup, di tambah lagi pondok papan kami yang yang berada didekat pabrik dan tidak memailiki fentilasi yang layak.
Usia ayah sudah tak lagi muda, kepala lima yang telah melekat padanya memandakan sudah cukup asam manis kehidupan yang ia tengguk selama hidup. Tapi perjuangan untuk membahagiakan kami lebih besar daripada rasa pilu yang pasti membebani pikirannya. Sebagai anak sulung aku merasa berdosa tak mampu menolong ayah mengurangi beban hidup yang ia tanggung.
Keluarga kami berjumlah lima orang. Ayah, ibu, dan adik ku yang masih kecil dan satu lagi seorang balita serta aku, manusia yang setidaknya membuat malu keluarga ini. Ketidak mampuanku membantu memikul beban ayah membuatku merasa hina, meskipun ayah tak pernah mengatakanya secara langsung. Usiaku 19 tahun cukup matang sebagai sosok seorang pemuda dewasa, tapi siapa yang akan berpikir menerima pemuda cacat bekerja. Bahkan ketika aku mulai melangakahkan kaki ku yang tak sempurna menjauhi pintu, semua orang telah menatapku dengan iba.
Andai kecelakaan 5 tahun yang lalu itu tak pernah terjadi, mungkin aku bisa membantu ayah lebih keras lagi, dan anissa adik kecil ku itu pasti bisa mersakan nikmatnya bangku sekolah. Terkadang aku menyesali keadaanku yang hanya menjadi beban untuk kedua orang tua ku. Harusnya dimasa tua, mereka tersenyum lebar dan menikmati sisa hidup yang mungkin tak akan lama lagi mereka jalani. Meskipun aku tahu tak ada seorangpun yang tahu kapan sisa hidup seseorang. Tapi setidaknya sebelum izroil menjemputku terlebih dahulu aku ingin membahagiakan mereka dengan caraku.
Semakin hari penyakit yang menggerogoti ibu makin gencar mengendalikan tubuhnya. Ibu hanya mampu berbaring diatas dipan yang bealaskan kasur, aku mki takut ajal inu makin dekat, kami benar-benar tidak mampu lagi membawa ibu ke rumah sakit. Puskesmas memang telah menyuruh ibu untuk dibaas saja ke rumah sakit, tapi negeri ini sungguh kejam. Kebutuhan makan kami sehari-hari saja sudah cukup berat, membawa ibu ke rumah sakit artinya kami harus berpuasa dan berhutang pada tetangga. Ibu sendiri juga sudah tampak lelah karena berulang kali harus meminum obat yang sama sekaloi tidak memberikan pengaruh pada penyakit yang menggerogotinya.
Aku tahu ibu measa lelah tapi ia tidak menyerah bahkan ia mencoba bangkit meski tahu itu tersa berat, aku melihat semangat ibu. Dan aku merasa malu karena aku telah berputus asa dan terlalu menyesali kecelakaan yang terjadi 5 tahun lalu itu. Aku putuskan untuk bangkit biarpun aku cacat secara fisik, tak memiliki tangan dan kaki tapi setidaknya aku masih bernyawa. Mulai saat itu, aku paksakan menyeret tubuh ini melangkah keluar kotak berukuran 8 x 7 meter yang pengap dan mencoba peruntungan baru. Terserah orang lain memandang ku hina. Tapi setidaknya aku harus bangkit demi ibuku tercinta.
Matahari juga terus berjalan, ibu sedikit-demi sedikit mulai kembali pulih. Raut wajahnya masih menyimpan goresan putih, batuk yang menemani langkahnya juga masih terdenagar meski sekarang lumayan. Bilik kamarnya yang dulu tanpa fentilasi sudah ku berikan sebuah lubang udara sebagai sirkulasi. Telah sebulan aku bekerja menjadi guru di salah satu sekolah penyandang cacat. Mereka tahu tubuh ini memang tak sempurna. Tapi, Tuhan sungguh adil, karena tidak menjadikan otak ku menjadi cacat. Berkat semua ini aku tak lagi menjadi beban ayah dan ibu, bahkan kini aku mampu menyekolahkan anissa dan membawa ibu kerumah sakit.

Dan firman Tuhan tak pernah salah, dibalik kesusahan selalu ada kemudan, dan Tuhan tak akan pernah memberikan cobaan kepada hambaNya melebihi kemapuan yang hambanya miliki. Sekarang aku sadar dan aku tak pernah lagi merasa menyesali keadaan yang saat ini. Yang ada hanya syukur, dan sungguh motivator terbesar di dunia ini yang pernah aku temui adalah ibu.

Komentar