riasan ubi sang amatir

edisi kartini bener-bener mengajarkan gue menjadi seorang wanita sejati, kenapa karena gue menjadi seorang koki meskipun hanya menjadi koki selama 30 menit.
koki ubi di hari kartini
dengan keteguhan hati dan tanpa persiapan karena seharian cuma tidur di kamar, gue bersama icen menjadi salah satu kolega perang ubi mewakili asrama A5 Silvasari yang tak lama lagi menjadi sebuah kenangan yang tak mungkin terlupakan.
dengan berbekal susu cokelat dan misiceres yang gue beli di alfamidi gue berangkat menuju rusunawa, tempat dimana gue dan icen bakal bertanding menghias ubi semampu kami. sebenarnya was-was juga karena kami satu yim harus bertiga tapi, kami cuma datang berdua karena mami ghaida gag terancam telat karena sebuah urusan yang tak terduga. tapi sepertinya Allah berkehendak lain karena mengirimkan latifah bersama icha yang buah karika serta dengan tulus mau menggantikan mami ghaida. terimakasih ifah.
ya dengan semangat kami langsung mengupas kulit ubi yang dibagikan panitia, semangat kami mengebu-gebu dan bersuka cita kami bentuk ubi menjadi bulat-bulat. karena kami gag punya konsep apa yang bakal ditampilkan pada pertarungan ini.
ubi bintang kehidupan "tampak atas"
setelah dengan yakin kami melumuri ubi yang bulat dengan susu kental manis dan taburan misisceres jadilah takoyaki, haha ngaco banget ya. kami gag yakin kalo bakal menang tapi gue yakin gue jadi juarannya karena kami telah melakukan yang terbaik, dengan peralatan sederhana dan naluri untuk berkreasi yang cukup paspasan. kami berikan sebuah nama bintang kehidupan pada ubi hias kami. dengan sentuhan tangan para amatir ubi yang biasa dipandang sebelah mata menjadi makanan tingkat dewa, siapa sangka makanan ini ubi, bukan takoyaki yang ada di depan al amin.
ubi bintang kehidupan "tampak samping"
pemberian nama bintang kehidupan memilikai makna bahwa ubi itu salah satu sumber kehidupan yang termasuk mengandung karbohidrat pengganti nasi, dan bentuk bulat yang terbentuk dari ubi ini memiliki maksud universal menyeluruh,mengartikan ubi dapat diamkan siapa saja mau di jawa, bali, afrika, arab, amerika mereka sah-sah saja kalau mau memakan ubi. dengan tambahan garnis manisan karika yang bewarna kuning sebagai cahaya yang menyinari dunia. filosofi yang aneh tapi keren buat gue, haha. dan pastinya buat tim gue.
yah setelah bersusah payah membuat kreasi ini dalam hitungan detik semuanya menjadi berantakan dantidak teratur, kenapa ya? jawabanya karena gue gag nyangka ternyata cewek juga bisa anarkis juga dalam berebut makanan apalagi yang berbau cokelat. dalam sekejap mata bola-bola dunia yang gue ciptakan telah terlumat dengan tangan-tangan para pecinta kuliner, dan tinggallah piring bersisa coklat yang berserakan diatas piring.
sang koki bersama karyanya

kiri "iffah" kanan "icen" koki keren pencipta karya 

Komentar