rasakan yang namanya lapar

pernah merasakan yang namanya gag punya uang sepeser pun di kantong?
inilah yang mungkin saya rasakan beberapa saat yang lalu. niat awal mau mengirit sampai seirit-iritnya malah banyak kebutuhan tak terduga yang mencekik saya. gagal sudah usaha dan niat baik saya. hancur sudah pengorbanan saya selama satu bulan dalam satu hari.

bukan saya miskin sampai saya harus kehabisan uang. bukan juga karena saya yang boros tak bisa memanageman keuangan dengan baik. karena sebenarnya saya juga telah memperhitungkan pengeluaran  untuk kebutuhan saya tersebut. tapi siapa sangka, ternyata Allah punya cerita lain.

hari ini saya benar-benar bisa merasakan yang namanya kelaparan. saya bisa ikut merasakan yang namanya gag makan seharian. saya juga mampu merasakan rasanya tersiksa tidak memegang uang sedikitpun. uang memang bukan segalanya tapi, segalanya butuh uang.

jujur saja, sebenarnya saat ini saya masih memiliki uang sebesar 20000. bukan nominal yang sedikit buat saya yang notabanya seorang anak rantau yang kirimannya tak tentu jumlahnya. saya bisa saja menggunakan uang itu. tapi kembali saya ingat akan satu perbuatan yang bakal menghantui saya kelak di akhir kehidupan yang sesungguhnya.

dengan sedikit galau saya dengan memotong sedikit urat malu. saya akhirnya menuliskan satu pertanyaan di salah satu jejering sosial untuk meminta solusi kepada beberapa teman

  • saya bingung harus saya apakan uang palsu sebesar 20ribu ini?
    haruskah saya membelanjakannya? toh tidak ada yang tahu kecuali saya
    atau saya simpan saja sebagai kenangan karena saya tidak teliti?
    terus terang saya bingung, uang 20ribu tampak menggiurkan jika saya belanjakan sekerat daging atau sepotong roti
dan ini ada beberapa komentar yang terselip untuk saya



waktu itu saya benar-benar sedang lapar.  hanya uang selembar 20.000 palsu yang saya punya saat itu. saya sempat berpikir untuk menggunakannya, toh penjualnya juga tidak akan tahu. tapi saya urungkan niat itu, birlah mungkin ini cara Allah memberikan suatu pelajaran pada saya. 

ya Allah inikah rasanya nikmatnya lapar yang sesungguhnya? pikir saya saat itu. saya jadi ingat perkataan teman saya sebut saja dia Raja, yang beberapa minggu lalu bercerita tentang infak. dia bercerita pada saya dan beberapa teman lainnya tentang fungsi infak dan sedekah. Raja bilang seperti ini.

"kemarin saya baru kehilangan sendal. dan sendal itu baru saja saya beli. saat saya menceritakan kejadian ini pada teman saya (sebut saja Ucup) , dia malah balik bertanya pada saya. begini 'sudah infak belum kamu ja minggu ini'." cerita Raja waktu itu. dengan senyum lepasnya Raja melanjutkan "oh iya kemarin-kemarin saya memang sempat lupa untuk berinfak" jelasnya pada saya dan yang lain.

dengan bijak teman saya menjelaskan "harta yang kita miliki sebenarnya ada sebagian yang menjadi hak orang lain, kalau kita ingin harta kita berkah maka infakkan sebagian harta kita pada orang lain." mungkin kejadian pemborosan kemarin terjadi karena keteledoran saya yang mulai lupa berinfak.

mungkin ini teguran Allah pada saya untuk tidak lupa bersedekah. toh setelah saya pikir-pikir sedekah iu tak pernah mengurangi harta kita. banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan hari ini adalah hargai makanan saat makanan itu ada. karena pada kenyataannya 'kelaparan itu lebih tidak enak dari apapun' itu versi saya lho. dan satu lagi jangan pernah menghabiskan uang pada hari kamis, jum'at. karena menunggu hari senin itu lama.

tapi sungguh Allah itu benar-benar sangat adil, karena setiap kali ada kesulitan pasti ada kemudahan yang mengikutinya. hari ini tanggal 3 juli 2012, saya mendapatkan kabar bahwa saya lolos beasiswa Inspirasi Muda. mungkin jumlahnya tidak seberapa, tak sebesar beasiswa R,,,,,, yang mencapai 2000000 perbulan. tapi ini beda karena menuntut kontribusi kita untuk banyak orang. mengajarkan kita menjadi luar biasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kalimat Motivasi

perjalanan