Cintanya Ada Di MAHARANI




“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kapada api
yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada”

sepenggal sajak Supardi Djoko Damono yang dikirimkan mas wawan pada Dinar Puspa.

Ternyata cinta memang datang dengan tiba-tiba, tak mengenal kapan, siapa, dan kepada siapa ia akan berlabuh. Tak kenal seberapa lama kamu mengenalnya sebarapa sering kamu berinteraksi dengannya. Tapi cinta selalu datang dengan semaunya. Mungkin itu yang dirasakan oleh seorang yang baru saja memproklamirkan dirinya sebagai kakak angkat saya “Wawan Dwi Armando” begitu dia menyebutan namanya.

Hanya butuh satu bulan untuk menaggumi sahabat baru saya Dinar Puspa Indah. Mahasiswa jurusan biologi angkatan 48, caranya berbicara dan berpikir selalu membuat saya kagum. Dewasa itu kesan saya padanya, meskipun lahir dari kota metrapolitan Jakarta tundak tunduknya Jawa punya (sopan, kalem, bebas dari hura-hura).

Ternyata bukan hanya saya saja yang kagum dengan dia. Seorang yang tinggal tak jauh dari saya diam-diam tapi modusnya paling mencolok juga mulai menanam benih-benih kekaguman yang luar biasa. Dengan wajah penuh harap dia menghampiri saya.

“mi bantu aku?” katanya penuh harap
“bantu opo?” penasaran
“bantu aku nyedaki Dinar”
(hemm jadi mak jomblang??? Otak saya memproses seolah gag mau menerima tawaran yang resikonya saya juga tidak tahu akhirnya akan dibawa kemana).

Hanya sebuah senyum dan tawa yang keluar dari mulut saya, sedikit rasa geli mengingat kakak angkat saya yang satu ini akan segera lulus. Nanti apa kabar Dinar kalo dia tinggalin ke banyuwangi. Tapi ada beberapa kalimat yang saya kagumi dari kakak angkat yang satu ini

“mi kalau aku sudah mapan langsung aku temuin keluarganya di Jakarta”
(wau segitunya, subhanallah).

Saya tak mengira ternyata cinta itu akan tumbuh di MAHARANI dengan cepat. Hanya sebuah senyuman haru yang saya sembahkan untuk kakak angkat saya dan sahabat saya. Semoga Allah memberikan titik temu yang pada akhirnya membuat hidup kalian bahagia. Toh, Tulang Rusuk tidak akan tertukar kok.

Komentar