kisah tanpa asa

waktu menunjukan pukul dua siang saat antrean di gedung Graha Widya Wisuda (Grawida) mulai mencapai klimaksnya. ratusan mahasiswa baru (maba) membentuk barisan panjang bak ular naga saat keluar dari pemeriksaan kesehatan. menunggu panggilan untuk segera mendapatkan jas Almamater juga jas Laboratorium. raut muka cemas dan lelah mulai tampak dari keluarga atau kerabat yang sedari tadi menanti diluar gedung grawida sejak pagi tadi.

sepasang mata sayu menghampiri meja layanan informasi dengan penuh harap. seorang bapak paruh baya yang usianya mungkin telah mencapai kepala lima. dengan nada resah bertanya pada petugas yang berjaga. "saya sudah menanti anak saya sejak jam 7 pagi tadi, tapi sampai sekarang (sambil melirik jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 14:45) dia belum juga keluar." kekhawatiran begitu tampak di raut wajahnya yang keriput dimakan usia. sang petugas yang buka pengawas dari semua maba hanya mampu memberikan jawaban yang sekiranya mampu menenangkan sang bapak. "mungkin anak bapak sudah pulang ke asrama, apa bapak sudah mencoba menghubungi adeknya?" jawab si petugas dengan nada setenang mungkin."saya tidak membawa Hp tapi tadi sudah di hubungi tidak bisa" terang sang bapak kembali. "bapak hapal nomor adiknya? nanti biar saya saja yang menghubungi" pintanya pada si bapak tua itu, untuk sedikit membantu. bapak itu mengangguk lalu menyebutkan satu persatu deretan angka yang diketahui sebagai nomor sang anak.

berulang kali sang petugas layanan informasi ini menghubungi nomor sang anak, tapi hasilnya nomor yang dihubungi sedang tidak aktif. seperti tak mau mengecewakan sang bapak petugas layanan informasi langsung pergi dan mencoba mencari keberadaan si anak yang diketahui memiliki ciri-ciri memakai jaket warna hitam. petugas layanan informasi yang lain akhirnya meminta bapak tua itu duduk serambi menunggu kabar selanjutnya.

semua orang masih bisa melihat bahwa pandangan bapak paruh baya yang tak diketahui namanya itu menerawang jauh. rasa khawatir yang besar terhadap putrinya ternyata masih membayangi kepalanya. kelelahan masih juga nampak dari garis-garis keriput halus yang mengisi wajahnya. menunggu memang bukan pekerjaan yang mudah. apa lagi untuk waktu yang tidak diketahui kapan berakhirnya. penantian sang ayah terhadap putrinya akhirnya bukan sia-sia karena mereka akhirnya dipertemukan kembali. dan kini mulai terlihat senyuman itu menghiasi wajahnya yang tadinya penuh rasa khawatir.

sepertinya kekhawatiran dan rasa lelah itu tak hanya dirasakan oleh bapak tua itu, hampir semua orang tua maba muali gelisah dan terus bertanya kapan akan acara ini akan segera usai. kekecewaan mulai nampak dari garis-garis muka mereka, seperti tak rela anaknya terlalu lama mengantre. kembali seorang ibu muda asal bekasi dan bogor juga mendatangi meja layanan informasi. dengan sedikit kesal dan lelah karena menunggu mereka bertanya pada sang petugas. lamat-lamat saya mengamati dari kejauhan mereka meminta kepastian kapan acara ini akan berakhir. "ini bulan puasa lho mbk, kasihan anak-anak sejak pagi lho mereka belum juga keluar." sang petugas yang tidak tahu banyak mengenai aktivitas yang terjadi di dalam grawida hanya tersenyum dan mencoba menjawab sebisanya. setidaknya ia mampu mengurangi ketegangan, dan kekhawatiran yang dirasakan oleh si ibu.

waktu menunjukan pukul 15:30 tugas layanan informasi telah selesai, si petugas bergegas pamit pergi serta mencoba mencari solusi dari permasalahan antrean panjang yang tak kunjung memendek. sampai di tangga petugas layanan yang mengenakan almamater biru itu bertemu kembali dengan seorang bapak yang kesal menunggu putranya yang tak kunjung kembali sejak 10:30 tadi.

melihat kejadian itu entah rasanya terharu melihat perjuangan para panitia yang tampak keteteran menangani 1500 maba. ditambah berbagai macam desakan dari orang tua yang sudah tidak sabar menunggu anaknya yang terlalu lama tertahan di dalam grawida. bukan hanya itu penantian yang benar-benar sangat membosankan harus mereka (Orang tua maba) lakukan demi anak-anak mereka. menunggu bukan hal yang mudah bagi kebanyakan orang apalagi tanpa sebuah kepastian. tapi kasih sayang orang tua kepada anak memang sungguh luar biasa. tak terbalaskan meskipun bulan sanggup engkau hadiahkan pada pangkuannya.

Komentar