NosTalgia


“kesuksesanmu bukan engaku dapatkan dari warisan, bukan pula pemberian. Tapi kesuksesan engkau dapatkan setelah engkau  merasakan sebuah kegagalan” (anonym,2012)

Mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan saya (3 Nopember 2012), kalau saja saya menolak untuk mengerakkan kaki dan mengayuh pedal sepeda. Kalau saja saya rasa malu itu lebih besar dan mengalahkan semangat saya. Pastilah kemampuan saya masih seperti yang kemarin masih dalam kepayahan. Selamanya hanya bisa melihat teman-teman mengayuh sepeda tanpa pernah merasakan kenikmatanya.
naik sepeda di samping kandang fapet
Memualai sebuah kayuhan itu memang berat, banyak godaan, harus berani menanggung malu. Tamapaknya memang mudah ketika orang lain mulai meluncur dan mengayuh pedal sepeda seenak hati mereka. Namun, asal saya tahu saja. Untuk mencapai kesuksesan itu pastilah mereka pernah jatuh terlebih dahulu, pernah lecet-lecet, pernah juga pegel-pegel. Tapi mereka tak menyerah malah makin gigih berlatih, sampai akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan.
Pada awalnya saya juga begitu, pertama kali naik sepeda rasanya tubuh mau ambruk, mau jatuh, bukan hanya itu tapi saya benar-benar harus berulang kali nabrak dan terjatuh. Bahkan saya sempat harus mengalami lecet di kedua tangan dan kaki. Ditambah lagi setelah latihan badan terasa sakit dan pegal-pegal. Itu baru secara fisik saya. Lalu bagaimana dengan mental saya, inilah persoalan yang berat. Usia 18 tahun belum bisa naik sepeda, semua orang menertawakan saya. Mereka pikir saya aneh, saat semua orang saat ini berupaya mengendarai pesawat saya malah memilih sepeda.
Kalau teman-teman yang menertawaka itu sudah biasa, tapi kalau ditertawakan anak SD? Mau ditaruh dimana muka saya?. (18 Februari 2012) insiden pertama yang paling berharga dari pembelajaran untuk  mengayuh sepeda dari GWW sampai A5. Satu jam lamanya saya harus bersusah payah mengayuh sepeda dengan menjaga keseimbangan saya yang sangat mengerikan. Berkali-kali saya hampir nabrak kendaraan lewat tapi teman saya dengan gigih memberikan kepercayaan bahwa saya bisa melakukannya. Dengan segenap kemampuan dan memutuskan urat malu saya kayuh sepeda meski hanya bisa bertahan beberapa meter saja lalu jatuh kembali.
Saya ingat waktu itu di belakang rektorat ada sepasang mahasiswa juga yang bersepeda, mereka melihat kearah saya. Bukan untuk menertawakan atas kepayahan yang saya alami tapi saya tahu mereka memberikan semangat untuk saya bahwa saya juga bisa. Melewati turunan ternyata menyenangkan meskipun saya harus histeris. Namun, jalan turun tidak selamanya turun karena kenyataannya saya harus mendaki jalan menanjak yang mesti saya hadapi.
Pendakian itulah masalah yang saat ini harus saya hadapi, saya belum mampu menaklukkan tanjakan dibelakang FKH dan mimpi baru saya adalah menaklukkannya. Meskipun kemarin saya baru saja kembali mencoba menaklukkannya untuk yang kedua kali. Toh sampai sekarang saya belum bisa, mungkin ada satu tatanan dalam pikiran saya yang harus di ubah. Saya yakin saya bisa, jika tidak kemarin esok saya pasti bisa.
Nostalgia yang menyenangkan bersama yae (siti yaenah), terima kasih mau sabar mengajari saya naik sepeda, terima kasih mau menunggu saya di ujung tanjakan. Terima kasih juga buat icen, asia, bu yusriah, yang mau mengajak saya naik sepeda ke cikabayan meskipun tahu saya masih payah. Andai kalian semua malas mengajak saya naik sepeda mungkin sampai hari ini saya belum bisa naik sepeda. Mungkin saja kemarin saya tidak akan pernah menunjukan pada jalanan GWW-Rektorat-FKH-A5 bahwa saya bisa naik sepeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kalimat Motivasi

perjalanan