Sebuah Perdebatan


“Apa yang salah ketika seorang pangeran jatuh cinta pada seorang budak. Bukankah kalian yang mendemonstrasikan bahwa cinta tidak memandang harta, cinta tak memandang status. Tapi kenapa sekarang kalian malah yang menentang cinta itu bersemi disini. L
pangeran cup-cup (si putih hitam) dengan kekasihnya
budak jantan (coklat belang)
“Permasalahan yang muncul bukan karena cinta itu memandang harta, status atau sebagainya. Hanya saja cinta itu tak pantas jika antara dia dan dia. Lihatlah siapa dia pangeran putih belang hitam yang menjadi dambaan. Bentuk tubuhnya yang panjang menggambarkan supermodel idaman, tapi lihatlah dia yang disana. Cokelat belang-belang, bahkan seekor nyamukpun tak sudi menatapnya.”

“Sebentar kanapa engaku mempermasalahkan fisiknya. Apakah engkau masih mau mengelak bahwa engkau sama dengan mereka yang berteriak mendemontrasikan cinta tak memandang apa-apa. Tapi lihatlah engkau juga melakukannya.”

“Bukan-bukan aku tak seburuk itu, aku masih memegang kata-kata itu. Hanya saja sang pangeran salah memilih budak, sang pangeran salah memilih pujaan hatinya, sang pangeran salah mengenai budakya.”
“Apa lagi yang salah??? Bukankah sang budak juga tak ingin dilahirkan menjadi budak, bukan kah budak juga makhluk tuhan yang berhak bahagia. Lantas kenapa engkau melarangnya.”

“Agh,,, kenapa kau tak juga mengerti, sang budak adalah jantan.”

“Apa???”

“Sang budak yang menjadi dambaan pangeran adalah jantan, andaikan dia betina aku akan mengijinkannya karena memang sudah saatnya sang pangeran menemukan pendampingnya. Tapi jika harus bersama sang jantan yang lain, mungkinkah ini sebuah tanda bahwa ternyata kelainan bukan hanya pada manusia. Tapi seekor hewan pun mengalaminya.”

“Maafkan aku, sungguh aku baru mengerti ternyata sang pangeran salah. Dan aku tak percaya pangeran mampu melakukannya.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kalimat Motivasi

perjalanan