nostalgia bersama si hijau

Ini masih soal perjalanan saya, sewaktu liburan kemarin nasib menperkenankan saya kembali bernostalgia dengan angkutan umum pada masa SMA dulu. Bus dengan tulisan ASRISA bewarna putih dengan gambar spideman. Selanjutnya sebuah angkutan umum berwarna orange dengan tulisan pekalongan-kedungwuni-kajen, atau angkutan hijau dengan tulisan kedungwuni-kajen-doro. Pelayanan yang diberikan masih sama seperti jaman dulu kala, hanya saja tarifnya kini berubah.

Dulu sewaktu saya SMA kendaraan umum inilah yang mengantarkan saya pulang ke rumah di akhir pekan. Cukup dengan membayarkan uang Rp 3000 saya bisa menikmati perjalanan dari pekalongan sampai pasar doro, itu kalau saya naik bus. Dengan syarat saya harus rela menunggu sampai satu dua jam untuk berangkat. Atau Rp 5000 untuk perjalanan dua kali naik angkutan umum bewarna orange dan hijau itu.  Dengan catatan akan menunggu lama saat menunggui angkutan hijau itu berangkat lagi.

Dari tadi menunggu menjadi catatan terberat bagi saya, angkutan umum tak lagi populer. Penggunanya makin sedikit, tergeser oleh adanya kendaraan pribadi dengan jenis sepeda motor. Adanya sistem kredit motor membuat kebanyakan orang memilih menggunakan kendaraan pribadi yang dirasa lebih praktis daripada naik kendaraan umum.

Terakhir kali kemarin saya menaiki angkot hijau selama perjalanan itu saya hanya menemukan empat penumpang. Mereka adalah dua orang remaja SMA dengan seragam yang berbeda, saya sendiri dan pak sopir. Tidak ada percakapan sama sekali, hanya ada suara panggilan telpon dari pemuda berseragam batik yang duduk didepan. Suasananya sangat berbeda dengan minggu lalu yang penuh oleh ibu-ibu penjual sayur di pasar. Mereka begitu saling mengenal, mereka bercerita sepanjang perjalanan.

Kalau sedang naik angkot saya paling suka duduk didepan pintu, bukan apa-apa. Pasalnya angin yang berhembus lebih terasa menyegarkan apalagi untuk perjalanan dari kedungwuni ke pasar doro. Pemandangan dengan latar hijau selalu menarik, persawahan di pinggir jalan raya selalu nampak menggoda. Rasanya seperti sedang berada di area permainan bolang di trans tv. Lalu bernostalgia lagi bersama teman-teman SMA seperjuangan yang mengenakan seragam batik cokelat yang menjadi ciri khas sekolah.

Oh iya, tarifnya sudah tak lagi sama, sekarang kalau naik bus saya harus membayarnya dengan harga Rp 5000 dengan syarat yang sama menunggu lama. Sedangkan kalau dua kali naik anggkot Rp 7000, dengan catatan akan penuh bersama ibu-ibu pasar atau menunggu lama atau terserah pak supirnya. Karena angkutan di tempat saya sudah begitu diasingkan, penggunanya hanya orang yang belum berkesempatan bisa mengendarai motor atau mereka yang memang masih mencntai angkitan. Kalau saya sendiri termasuk dari dua tipikal manusia itu, belum bisa berkendara dan masih mencintai angkutan umum.

Komentar