episode OMDA

#mkarabIMAPEKA2013 (part 1)

Akhirnya setelah tahun kemarin gagal mengikuti makrab yang disiapkan oleh kakak-kakak omda yang lain. Tahun ini, bisa mengikuti makrab yang ternyata seru banget. Setidaknya dengan adanya makrab ini semua orang tahu karakter setiap individu masing-masing. Meskipun, rahasia terbesarku terbongkar juga.*Siapa yang tahu kalo sebenarnya aku terlalu perasa dan keras kepala.

Kemarin tanggal 23-24 Februari di gunung bunder aku dan teman-teman omda lainya menghabiskan waktu bersama. Tertawa, berbagi kebahagiaan bahkan kepo sesama keluarga. Siapa yang menyangka ternyata banyak kisah cinta yang diam-diam tersembunyi dalam keluarga kami. Ada cinta yang berakhir bahagia, atau hanya menggantung begitu saja sampai pada akahirnya terlepas dan terlempar keudara. Yang bahagia semoga langgeng, yang terhempas semoga cepat menemukan tempat yang lebih tepat. *semungut kakaq

Kami berangkat terbagia atas dua kloter, siang dan sore. Aku dan beberapa yang lain kejatahan berangkat sore, kami ada dua angkot *yang cukup penuh ya ternyata. Selama perjalanan dari kampus sampai gunung bunder kami mengalami macet di daerah cibanteng dan selanjutnya alhamdulillah perjalanan lancar jaya. *Tau kan ya weekend itu macetnya minta ampun dahh panjangggg.

Jadi ngebayangin kalo seandainya kita makrab di puncak, kayaknya sampai sana jam 8 atau 9 malam kalo weekend gini. Alhamdulillahnya perjalanan kami Cuma memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Jadi kita sampai di villa beberapa menit menjelang maghrib. Perjalanan yang sangat cepat tentunya. Tapi, ini semua harus dibayar dengan jalan yang berliku serta menanjak tajam. Hampir saja aku mabok perjalanan tapi semuanya setimpal dengan pemandangan yang sangat indah. Kota bogor nampak begitu orange *iyalah genteng-gentengnya doang yang kelihatan. Kata temenku atap GWW keliahatan. Tapi aku tetep aja gag liat padahal udah celingukan.

Jalan menuju vila ternyata melewati kuburan, tapi kuburanya gag serem solanya berada dismping perumahan. Terus mas tri nanya sama kami semua yang ada di angkot. “kalian takut gag barusan sama kuburan?”. Si uus yang disamping mas tri jawab, “enggak mas orang rame”. Umi gede juga gag kalah bilang “orang samping rumah juga kuburan mas”. Pastinnya aku juga mau ikutan dong “kalo aku tergantung ya mas, kuburannya diamana” dan seketika angkot jadi rame dengan argumenku barusan. “iya mas kalo di desa takut soalnya sepi tapi kalo di kota enggak soalnya dipinggir jalan raya” intinya sih seperti itu. Maka dari perbincangan ini mas tri mendapatkan kesimpulan bahwa “Mahasiswa TAKUT kesepian, bukan TAKUT sama setan”.

Sampai disana kami langsung menyerbu tempat peristirahatan untuk meletakkan barang, lalu bermain mengelilingi vila. *sebenarnya Cuma naik turun tangga. Oh iya, villanya punya loteng diatas bisa liat sunset kalo langitnya sedang berawan. Waktu itu pas naik ke loteng ternyata udah ada rusli, mas sule, sama mas tri. Jadilah kita berempat diatas loteng sambil ngeliat awan sama pemandangan. Terus massing masing dari kita mulai bicara apa saja. Seperti loteng ini kalau difilm-film ini pasti jadi kamar anak laki-laki. Terus ada lagi pemandangan depan sebuah sawah terhampar lalu mas tri tiba-tiba bertanya. “Umi jurusan apa”, aku jawab “fisika mas”. Lalu “rusli”. “aku ARL mas” lah “sule AGH”.

“apa kamu pikirkan tentang lahan sawah disana” *sebenarnya waktu itu bingung mau jawab apa tapi yang kepikiran malah bintang
“buat ngeliat bintang mas keren”. “oh bisa-bisaastronomi” *padahal astronomi aku gag tau apa-apa soal ilmu itu.
“kalo aku mas iku depan belakang mas, soale ada bagian yang hijau tua ada yang muda” *ya intinya sih gambar ya. Biasah anak landskap
Mas sule jawab paling keren karena dia unik “fotografi” *wah kayaknya mas sule terobsesi jadi fotografer.
Pengen tau gag jawabanya mas tri “kalo aku mikir itu lahan punya siapa ya?” simpel padet jelas.

Satu yang akhirnya aku tahu kalo setiap orang punya presepsi masing-masing dari apa yang dia lihat.



Komentar