Tidak Bisakah untuk Tidak Menyakiti


Apakah harus menyakiti dulu agar kita tahu rasanya sakit hati, akankah kita harus menjadi orang lain terlebih dahulu agar orang lain mau peduli. Tidak bisakah kita menjadi diri sendiri tanpa harus saling menyakiti. Saya kira tidak demikian bukankah Tuhan menciptakan manusia bukan untuk saling membenci atau menyakiti. Jelas-jelas Allah menyuruh manusia untuk saling mengasihi bukan untuk membenci. Lalu, landasan apa yang kita gunakan untuk menyatakan bahwa kita diperbolehkan menjadi orang yang senang menyakiti. Apakah tidak ada cara lain untuk mendapatkan kepuasan hati tanpa perlu ada seseorang yang merasa dikhianati.

Maka biarkanlah bintang sendiri yang memilih tontonannya di bumi. Melihat tokoh-tokoh antagonis baru. Mereka yang lahir dari rasa sakit hati dan kebencian tak berhati nurani. Dengan pongah membusungkan dada merasa menang ketika lidah-lidah yang tajam telah menyayat perasaan. Tersenyum bangga ketika yang empunya meneteskan air mata tanda tak sanggup menahan perih yang menyiksa.

Inilah potret sederhana, ketika manusia tak lagi pandai bersyukur. Tak lagi peduli dengan sesama, merasa bahwa kehidupanyalah yang paling menyakitkan. Merasa bahwa ialah yang paling tersakiti, hingga ia lupa bahwa masih banyak orang yang lebih sakit dari apa yang ia rasakan. Mereka yang tengah lupa bahwa pertolongan Allah akan sealu ada, lalu membiarkan diri mereka menikmati perannya sebagai tokoh antagonis dalam serial tanpa tahu akhir.

Komentar