Just Him



“Sudah sejak lama dari waktu itu, aku hanya ingin memulainya lagi. Berharap bahwa akan ada banyak perubahan yang terjadi meskipun pada akhirnya nanti aku tidak akan begitu mengerti. Namun, setidaknya aku bisa merelakan risau itu untuk pergi berkelana sementara. Sedangkan aku mencoba membenahi hati”.
Sudah setahun sejak perkenalan itu, tak pernah ada sesuatu yang membuatku menjadi tidak nyaman. Bagiku semua terasa lebih natural, dan yang pasti aku merasa nyaman ketika dia menyentuh ujung kepalaku. Ia selalu berhasil membuatku lebih merona dan merasa malu.
Dia selalu penuh kejutan, meskipun seleranya terhadap lelucon cukup rendah. Sama sepertiku dia menyukai jepang dan kami bermimpi bersama untuk pergi kesana. Dia tipikal seorang pria yang pandai menganalogikan sesuatu dan selalu membuat hatiku menjadi tidak karuan.
Suatu pagi dia mengejutkan ku dengan sebuah ring tone yang mengganggu lelapku, dengan sedikit malas aku menerimanya. Berharap bahwa ia tidak akan menceritakan hal-hal lucu yang sama sekali tidak membuatku tertawa.
“kira, wake up..!!!” triaknya dari ujung telepon membuatku menyinggirkan handphone itu beberapa centi.
“apasih.. masih pagi juga ganggu tidur aja” protesku, sambil menguap lebar.
“semaleman nih aku nunggu pagi buat bisa cerita sama kamu”
“emang mau cerita apa? Kancil nyolong timun, apa donal bebek?”
“serius nih kir, dari semalem aku gag bisa tidur. Sepertinya aku jatuh cinta kir”
Serasa ada sebuah petir yang mendadak menyambar saluran telepon kami, ada hening yang hadir lalu menenggelamkan kami pada pikiran masing masing. Aku tak pernah menyangka sepagi ini mendapatkan berita yang tidak pernah aku harapkan sebelumnya. Karena aku salah, aku menangis aku salah karena aku seharusnya tersenyum mengetahui dia menemukan tempat untuk menyandarkan hati.
“kiraaaa, kamu masih disitu kan?” tanyanya penasaran
“hemmm, terus apa selanjutnya?” tanyaku mencoba terdengar senatural mungkin.
Aku mencoba meredam air mataku yang sudah siap mengalir deras ketika dia menceritakan semua yang terjadi beberpapa hari ini. Bagaimana ia menemukan perempuan yang katanya sangat berbeda dari semua gadis yang pernah ia jumpai. Aku mencoba menyamarkan isakku sebisa mungkin, aku tak ingin mengurangi kebahagiaanya sekecil apappun itu.
“gimana kir? Bisa bantu aku buat kenal lebih jauh sama dia kan?” katanya di akhir cerita yang tidak semuanya aku dengar dengan baik.
Tidak ada jawaban dalam waktu lama, aku tak yakin bisa membantunya. Aku perlu waktu untuk menata kembali hatiku yang jatuh berkeping-keping. Andai saja gadis itu aku mungkin dia tidak perlu bersusah payah mengenalnya lebih dekat. Karena kami juga sudah sangat dekat.
“baiklah........” kataku sambil menarik napas
“thank’s kira, i love you so much my best friend”
Mendengar suaranya menjadi lebih girang membuatku menjadi cukup senang, meskipun sesungguhnya aku mulai tak kuasa menahan air mataku untuk mengalir lebih deras lagi. Dia sangat bodoh, tidak kah dia tahu aku sangat mencintainya.
Semenjak saat itu dia tak pernah lagi sering bersamaku, dia lebih sering berdua bersama kekasihnya. Aku mulai sepi dan aku begitu cemburu, tak menyangka seorang gadis yang baru beberapa waktu lalu ia kenal kini benar-benar merbut dia dari ku. Aku akui gadis itu memang cantik, manja dan tipikal orang yang banyak dikagumi oleh banyak orang. Ini membuatku semakin khawatir aku tidak akan mendapatkan sedikit saja perhatian dari dia.
Untuk beberapa saat memang benar, aku tak lagi mendapatkan tananggnya yang kokoh mendarat di kepalaku. Aku tak lagi pernah bisa mendapatkan waktu untuk menonton dengannya lagi. Bahkan aku sempat kehilangan dia untuk beberapa lama. Gadis itu benar benar mengambil dia dariku, aku benar-benar membenci gadis manja itu.

Komentar

  1. harusnya judulnya Just Him umi, kan sbg objek

    BalasHapus
  2. okeh azka makasih koreksinya :)

    BalasHapus
  3. Aduh, kok tragis sih kisahnya umi :'

    BalasHapus

Posting Komentar