soulmate 'RERE'



Dulu sekali aku pernah menyukaimu, dulu sebelum kamu mengenalku. Sebelum hari ini kamu mengajakku berbicara. Mungkin kamu akan bingung bagaimana mungkin aku sudah menyukaimu sedari dulu. Kamu pernah mendengar istilah Soulmate, aku pernah dan aku meyakini bahwa kamu adalah soulmate ku meskipun kita tak saling mengenal, hingga saat ini Tuhan mengijinkan Kita untuk saling mengenal.

Sebenarnya tidak ada pertemuan istimewa antara aku dan kamu yang membuat hati ku yakin bahwa kita adalah soulmate. Semuanya berjalan normal kehidupanmu yang jauh dariku, begitu juga sebaliknya antara aku dan kamu. Sungguh tidak ada yang spesial, kecuali beberapa pertemuan tanpa sengaja antara kita yang tak bisa aku sebut itu sebagai perkenalan. Sebab mana mungkin aku sebut itu perkenalan kalau kamu tak pernah memberikan matamu untuk melihatku.

Sejak tiga tahun kita dalam satu payung yang sama, kamu tak pernah mengajakku berbicara. Begitu juga denganku  tak pernah berani meminta kamu untuk mengingat namaku dalam salah satu memorimu. Kamu populer dengan banyak teman dan sahabat, hampir semua orang mengenalmu dengan baik. Itu sangat berkebalikan denan kehidupanku yang bagi banyak orang adalah membosankan. Tapi ini hidupku aku menyukainya tak peduli mereka bilang ini membosankan.

Kamu tahu akulah gadis dibalik bilik meja peminjaman buku di perpustakaan, aku tahu semua buku yang kamu pinjam dari novel sampai buku ilmu pengetahuan. Kamu tak tahukan, sebab saat kamu meminjam atau mengembalikan buku kamu tak pernah memandangku. Hanya cukup meletakkan buku diatas meja lalu kamu kembali bercerita dengan sahabat-sahabatmu. Lalu aku hanya melirik sekedarnya saja sebab aku suka melihatmu bercerita.

Entah kenapa aku benar-benar menyukaimu saat itu, sampai aku berpikir bahwa kamu adalah soulmate ku. Bukankah itu hal bodoh, pertanyaanya mungkinkah aku masih berharap bahwa kamu adalah soulmate ku. Jawabannya tentu saja aku tak tahu, sebab pertemuan kita setelah tiga tahun yang lalu kembali membuat jantungku kembali berdetak lain daripada bisanya.

“hei, kamu rara kan?” kamu betanya, ini percakapan pertama kita dan kamu mengenalku. Aku pikir kamu tak pernah tahu aku.

“iya, mungkin ada yang bisa aku bantu?”

Sungguh aku gugup rasanya jantungku kembali berdegup seperti gendang. Aku takut suara ini terdengar oleh mu.

“boleh aku duduk disini”

“tentu saja, bukankah bangku taman ini milik umum” aku mencoba tersenyum sebaik mungkin, mencoba menyamarkan detak jantungku yang tak beraturan.

Sore ini tak biasa, sebab aku tak menghabisakan waktuku hanya dengan mendengar musik dan membaca buku. Sungguh ada warna lain yang memwarnai soreku dengan warna merah jambu. Dan itu adalah sebuah kisah darimu, sejujurnya aku hampir tak percaya manusia populer sepertimu mau membagi kisah padaku manusia yang sepanjang waktu dihabiskan dibalik buku.

Pertanyaanya sejak kapan kamu mengenalku, bukankah kita tak pernah berkenalan. Bahkasn dimasa sekolah kita tak pernah sekelas. Jika aku mengenalmu bukankah itu wajar, tapi saat kau mengenalku bukankah itu aneh. Aku tak peduli mungkin aku cukup dikenal sebagai salah seorang tim dari penjaga perpus sekolah saat jam istirahat. Meskipun sejujurnya tim itu hanya berisikan aku seorang. Bahkan sampai saat ini setiap akhir pekan aku membantu mengurus perpustakaan milik ayah.

“dari mana kamu mengenalku, bukankah kita tak pernah sekelas?” aku benar benar malu untuk bertanya soal ini sebab, aku yakin ini adalah pertanyaan yang sangat bodoh.

Benar saja ketakutanku benar menjadi nyata, kamu tertawa lebar mendengar kalimat yang baru saja aku ucapkan. Aku tak mengerti kenapa orang seperti kalian muda sekali mentertawakan orang, adakah yang salah dengan pertanyaanku. Tentu saja aku berhak bertanya bagaimana kamu namaku padahal kita tak bernah berkenalan, aku tak pernah memberitahukan namaku padamu bukan. Kamu tertawa dan itu membuatku semakin nampak bodoh dan aneh.

Sejak sore itu kita manjadi semkin dekat, setiap sore kamu selalu datang berkunjung di taman ini. Aneh bukan saat kita berada ditempat yang sama kita sepertinya tak pernah menyapa, sekedar untuk memandang saja aku benar-benar tak berani. Tapi sejak dulu aku telah meyakini bahwa kamu adalah soulmate ku.

Komentar