pendakian menuju Sindoro

Akhirnya Tuhan memberikan kesempatan itu pada saya, lagi-lagi saya kembali bersyukur bahwa kenyataanya Allah masih berkenan memberikan sebuah kesempatan yang berharga. dan sebuah kenangan yang menjadi penutup segaligus pembuka tahun ini.

berkat sebuah kesempatan dan perencanaan yang matang saya berhasil melangkahkan kaki untuk menjapai sebuat titik untuk medekati langit. sebuah keinginan kuat untuk mendaki telah lama saya patri dalam hati. ya sebuah mimpi, dan keinginan itulah yang membuat saya berhasil mencapainya. setelah melawati ujian kesabaran untuk berjalan menuju rumah pada sabtu pagi, namun kesempatan masih memihak saya untuk kembali.

selasa pagi, ditemani awan mendung yang sejak dini hari menghias langit. kami (saya dan mbk) berkendara menuju sebuah tempat yang menjadi titik nol dari petualangan kami. pasar doro menjadi pilihan menarik untuk kami berkumpul dan saling memperkenalkan diri. ada mas purwo, mas aji, fauzan, om gendut dan masih ada beberapa orang yang saya lupa namanya.

perjalanan pertama kami dengan mengendarai mobil bak terbuka adalah menuju petungkriyono, daerah paling selatan dari kanupaten pekalongan yang bersebelahan dengan kabupaten banjarnegara. daerah yang apik dengan pemandangan yang menajubkan, sebuah kawasan ekowisata yang damai, tenang dan mempesona. kalian akan menemukan surga dunia disana *terutama bagi kalian yang merindukan pesona alam yang bebas dari polusi*.
di samping kecamatan, look like negri atas awan
petungkriyono dan eksotismenya :)

selepas dzuhur kami tiba di kecamatan petungkriyono langsung disambut dengan dinginnya udara serta pemandangan seolah berada di negri atas awan. saya selalu menikmati udara petungkriyono yang selalu mebuat saya bersyukur bahwa masih ada jaket hijau untuk menutupi bumi yang makin tua ini, setidaknya yang sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.

kami kembali menyiapkan perbekalan yang akan kami bawa menuju pendakian yang sebenarnya, gunung sindoro yang terletak di daerah wonosobo menjadi sebuah titik akhir. jumlah anggota kami bertambah menjadi sekitar delapan belas orang, ada pak camat, pak lurah, agung, mas arif, mas adit, mas sholeh, dan beberapa orang yang tidak saya ingat namanya. *maaf ya saya lupa*
tim pendaki gungung sindoro, yang lain ngefotoin jadi ga ada haha

inilah perjalanan yang sesungguhnya setelah melewati dataran tinggi dieng kami menuju perkebunanteh tambi dan lanjut ke desa si gedang yang merupakan rute pendakian yang akan kami lewati. pukul 17:20 kami mulai berjalan melewati perkebunan teh yang di susul dengan lahan kering yang hanya dihiasi ilalang.

gunung sindoro lebih dikenal sebagai sebuah gunung kering yang didalamnya tidak telalu banyak pepohonan maupun sungai yang mengalir seperti gunung gunung lainnya. rute yang kami lewati adalah sebuah jalan stepak yang terus menajak tanpa dataran landai yang mengijinkan kami untuk beristirahat. sebagai seorang pemula rute ini sejujurnya membuat saya hampir menyerah karena kaki saya mulai lemas ditambah beban air yang sedang saya bawa dibalik punggung.
perkebunan teh tambi

bersyukur banget teman teman pendakian saya baik dan merelakan diri untuk membawakan tas saya, *merasa jadi nyusahin* akhirnya untuk beberapa saat saya bisa melangkah lagi dengan bahagia tanpa beban yang menggelayut di punggung. ditengah perjalanan mungkin sekitar pukul sembilan malam hujan dan angin datang menyambut kami. ini merupakan situasi yang saya tidak suka, hujan artinya basah dan ketika dingin dan basah menyatu itu rasanya menjadikan tubuh saya kaku.

saya dan beberapa teman mulai sibuk mengenakan jas hujan agar menjaga tubuh kami tetap kering. perjalanan panjang masih perlu kami lakukan, targetnya malam ini kami harus sampai di puncak. namun udara yang dingin sungguh membuat kami begitu lemah, bahkan om soleh sudah berkali kali meminta istirahat dan ngecamp. saya bisa memaklumi kami baru makan tadi dzuhur dan sampai pukul sepuluh belum ada asupan makanan yang bisa menghangatkan perut. dengan tingkah seperti bocah saya menyemangati om soleh yang sudah nampak kelaparan.
"semangat om semangat sebentar lagi" teriak saya *kalo inget jadi malu*

energi saya benar benar semakin menipis, tahu bakso, dan dua cup kecil agar inako yang tadi saya makan masih belum cukup membantu memulihkan energi. tangan saya semakin terasa kaku, serta semakin memerah tanda bahwa suhu disini sudah terlalu dingin. angin gunug dan tetesan langit masih saja mangiringi perjalanan kami, ah rasanya saya ingin berhenti.

beberapa kali saya hampir terjatuh karena salah fokus, angin yang berhembus dalam beberapa saat juga hampir membuat saya limbung. namun seperti sebuah anugerah ketika mendapati sebuah api unggun sedang dikelilingi oleh beberapa pemuda membuat saya dan kawan kawan tergiur untuk beristirahat. inilah kehangatan, saya menikmatinya.

saya sadar bahwa saya telah sampai pada sebuah titik yang sungguh tinggi, saya mampu melihat kelap kelip lampu kota yang menyala indah dari atas sini juga beberapa kembang api yang menyala-nyala. sungguh saya menyaksinannya subhanallah sungguh Allah maha pelukis yang sangat agung.

kami harus terus berjalan meskipun kaki sudah mulai berontak ingin beristirahat, melawati jalan beatuan yang terus menajak hingga sampailah kita pada tim terdepan. akhirnya mereka menyerah dan memutuskan mebuat tenda *mbok kawet mau mas*. akhirnya kami memutuskan berhenti dan ngecamp malam itu, sebab kondisi tubuh sudah tidak memungkinkan lagi untuk berjalan, lagi pula saya juga sudah sangat kedinginan.

to be continuee....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kalimat Motivasi

perjalanan