UTS selesai waktunya PULANG

akhirnya UTS selesai, perjuangan seminggu ujian akhirnya terbayar dengan "PULANG". kemarin aku berhasil buat pulang kampung ketemu sama orang-orang tercinta di rumah. setelah ujian dua matakuliah tentunya rasanya ini seperti sebuah hadiah besar "bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian".


sore 8 april 2014 sebelum akhirnya aku pulang, masih ada satu kewajiban lagi yang harus ditunaikan. bertandang ke salah satu adik tutor yang kebetulan ada di perumahan Baranangsiang buat ngajar materamtika. karena mau pulang aku berencana ngajar lebih cepet supaya jam setengah enam udah nyampe di terminal.

rencana yang satu ini berhasil,  tapi sayang bus langganan yang bisa aku tumpangi setiap pulang mendadak udah full. alhasil aku harus cari bus alternatif lain yang selalu saya hindari. alasanya pertama bus ini memiliki tempat peristirahatan yang "sangat tidak nyaman", kedua mereka suka menaikan pedagang asongan dan pengamen dengan sounds system yang ditenteng setelah dari tempat peristirahatan, ketiga mereka sangat ugal-ugalan.

karena tidak ada pilihan lain mau tak mau Dewi Sri jadi pilihan terakhir, dengan ongkos 60 ribu rupiah akhirnya aku putuskan pulang dengan bus yang kali ini berAC. beruntung sekali sebab PO bus yang satu ini sering kali menggantarkan pulang penupang dengan bus seadanya tanpa AC dan bangku yang sangat sempit.

perjalan dari terminal menuju pekalongan siap dimulai, AC yang tidak terlalu dingin membuat sedikit gerah. tapi untungnya tidak ada satu penumpangpun yang merokok karena "LABEL AC". perjalanan selama 12 jam dimulai, kami berhenti dua kali di daerah jalan baru serta di tempat istirahat "tapi tidak bisa istirahat juga, soalnya waktu selesai solat aku hampir aja ditinggal sama busnya" kami di tempat istirahat kurang dari 30 menit.

perjalanan kami mulai terhambat dengan adanya bebrapa titik yang membuat kami harus berjalan lambat. salah seorang kondektur yang menemani si supir dalam perjalanan mengatakan bahwa mereka akan mencoba melawan arus dengan syarat "kami penumpang harus rela memberikan sumbangan seikhlasnya". mernurut aku itu hal yang sangat tidak wajar. bagaimana aku mau mepertaruhkan nyawa dengan entengnya ketika mereka melanggar hukum.

beberapa penumpang berkata "terserah saja" tapi aku dan salah seorang bapak paruh baya yang duduk dibangku sebelah juga engan memberikan sumbangan. tentu saja alasan kami untuk menolak sangatlah logis. bagaimana mungkin kita membiarkan mereka meminta uang pada kita untuk melakukan tindakan melawan hukum. sebab aku merasa dibodohi oleh kondektur, seperti aku tak berpengalaman soal hal ini. tahun lalu dengan bus yang sama saya pernah melawan arus dan hasilnya kami nyaris "KECELAKAAN dan kami TIDAK dipungut biaya sedikitpun".

setelah berlelah-lelah dan kesel dengan pelayanan bus yang kacau balau ini, akhirnya pagi tiba dan kami terlambat tiba di Pekalongan tercinta. Tuhan selalu punya cara untuk menghibur umatnya yang bermuram durja. maka pagi itu langit cerah dan menampakan pemandangan menjubkan, yang tak sempat dilihat ketika kita tiba di pekalongan lebih awal.

pemandangan dari luar jendela, gunung slamet dan hamparan sawah yang luar biasa yang gag bakal ditemui kalo subuh udah nyampe pekalongan.

Komentar