Cerita sebutir Nasi

http://www.metrosiantar.com

Apa yang kamu makan hari ini?

Sepiring nasi dan lauk pauk yang beraneka macam itukah?

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana perjalanan sepiring nasi itu sampai diatas meja makan mu?

maka ijinkan anak petani ini bercerita

Nasi yang nikmat itu tentunya tak akan tersaji diatas piring jika para petani di sawah yang terik itu gagal panen, Jika tanaman mereka di serang hama "Wereng, Tikus, Burung Pipit, Keong Mas" dan masih banyak lainnya.

Perjalanan panjang sebutir nasi dimulai dari pemilihan bibit, tentunya hal ini harus dilakukan agar tanaman yang tumbuh kelak bisa optimal. selanjutnya para petani akan melakukan penyemaian bibit di pematang sawah yang dekat dengan aliran air. Sembari menunggu bijian gabah itu bertunas petani akan menggarap sawah mereka dengan mencangkul dan juga membajaknya. setelah kurang lebih satu bulan bibit yang disemai tadi diambil kemudian di tanam oleh kaum ibu-ibu.

Kami menamai proses itu dengan istilah tandur "menanam sambil berjalan mundur", sewaktu saya kecil saya sering ikut menanam padi disawah bermain kubangan lumpur itu menyenangkan. Kata mamak hasil tandur saya dulu bagus *mungkin sebenarnya saya memiliki jiwa bertani. Tentunya tidak hanya sampai situ saja perjalanan sepiring nasi itu, Setelah lelah menanam para petani harus mengontrol tanaman mereka sehari dua kali *bisanya dilakukan di pagi dan sore hari. Mereka harus memastikan bahwa aliran air mengalir dengan baik pada setiap pematang sawah. Memberantas gulma yang menganggu dan menjadi musuh untuk tanaman.

Ketika padi mulai merunduk, Mereka bahkan bekerja lebih keras lagi. burung-burung pipit yang kelaparan biasanya mulai menyerbu,  dengan sesuka hati duduk diantara batang padi yang ringkih dan membuat tanaman menjadi rusak. biasanya selama satu bulan sebelum panen petani kita akan banyak meghabiskan waktu lebih lama disawah. Jika biasanya mereka berkunjung ke sawah hanya mengecek aliran air dan membersihkan gulma. maka kali ini mereka akan berjalan di pematang sawah sambil berteriak mengusir burung pipit nakal yang merusak itu.

Beberapa bulan yang lalu saya sudah merasakan bagimana nikmatnya menunggui burung pipit di tengah sawah yang terik, berjalan diantara tanaman padi yang mulai menguning dan sesekali terjatuh diantara kubangan lumpur karena terpeleset. bahkan harus menikmati gatalnya kulit ketika bersentuhan dengan daun-daun padi yang penuh dengan bulu itu.

"Bertani bukan hanya soal menanam juga memanen, tapi Bertani adalah panggilan, pekerjaan mulia untuk menghidupi banyak manusia".




Komentar